Kendari – Universitas Muhammadiyah Kendari, melalui Fakultas Farmasi, menyelenggarakan serangkaian kegiatan akademik bergengsi pada hari Senin, 7 April 2026, yang mencakup seminar nasional, webinar interaktif, dan kuliah umum dengan menghadirkan praktisi dan akademisi terkemuka di bidang farmasi dan kesehatan. Acara yang diikuti oleh lebih dari 500 peserta, baik dari kalangan mahasiswa, dosen, profesional industri farmasi, maupun masyarakat luas, menunjukkan komitmen institusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan farmasi dan kontribusi nyata terhadap perkembangan industri obat-obatan nasional.
Kegiatan berlangsung selama satu hari penuh mulai pukul 08.00 pagi hingga 17.00 sore di Gedung Aula Multifungsi Fakultas Farmasi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Tema utama acara tahun ini adalah “Inovasi Farmasi Indonesia: Dari Bioteknologi Herbal Hingga Regulasi Obat di Era Digital,” yang mencerminkan urgensi pengembangan obat lokal dan penguatan industri farmasi nasional menghadapi kompetisi global.
Latar Belakang dan Pentingnya Acara
Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan farmasi berbasis kearifan lokal, khususnya dengan kekayaan biodiversity yang mencapai 40.000 spesies tumbuhan obat. Namun, pemanfaatan sumber daya alam ini masih belum optimal dalam menghasilkan produk farmasi berkualitas tinggi yang dapat bersaing di pasar internasional. Hal inilah yang menjadi latar belakang Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Kendari mengadakan rangkaian acara akademik berskala nasional guna memfasilitasi pertukaran ilmu dan pengalaman di antara para stakeholder pendidikan farmasi dan industri farmasi.
Sulawesi Tenggara, khususnya Kendari, merupakan wilayah yang kaya akan potensi sumber daya alam yang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk pengembangan industri farmasi lokal. Inisiatif Fakultas Farmasi Unismuh Kendari ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya pengembangan produk farmasi berbasis sumber daya alam lokal dan membuka peluang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri swasta dalam ekosistem inovasi farmasi.
Dr. Hendra Wijaya, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Kendari, menjelaskan bahwa acara ini merupakan wujud nyata dari komitmen fakultas dalam mengintegrasikan pendidikan farmasi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. “Kami percaya bahwa pendidikan farmasi berkualitas tidak hanya terbatas pada transfer ilmu di dalam kelas, tetapi harus melibatkan praktik nyata, kolaborasi dengan industri, dan pemahaman mendalam tentang regulasi yang berlaku. Seminar nasional ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi mahasiswa, dosen, dan seluruh ekosistem farmasi Indonesia,” ujar Dr. Wijaya dalam pembukaan resmi acara.
Program dan Agenda Kegiatan
Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan resmi yang dipimpin oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dilanjutkan dengan seminar nasional yang menampilkan lima pembicara utama dari berbagai institusi terkemuka. Seminar pertama mengangkat topik “Strategi Pengembangan Obat Herbal Terstandar: Tantangan dan Peluang,” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Bambang Setiawan dari Universitas Airlangga Surabaya, seorang pakar dalam bidang fitofarmaka dan etnofarmakolgi yang telah menerbitkan lebih dari 50 jurnal internasional terkait pengembangan obat herbal.
“Saat ini, persaingan obat herbal di pasar regional dan global sangat ketat. Namun, Indonesia masih memiliki keunggulan komparatif yang belum sepenuhnya dimaksimalkan. Salah satu kuncinya adalah standardisasi, mulai dari budidaya tanaman obat, proses ekstraksi, hingga uji klinis. Universitas Muhammadiyah Kendari memiliki posisi strategis untuk memimpin inovasi ini, mengingat kedekatannya dengan sumber daya alam Sulawesi yang kaya,” kata Prof. Bambang dalam sesi seminar pertama yang berlangsung pada pukul 09.15 pagi.
Seminar kedua, dilaksanakan pada pukul 10.45 pagi, menghadirkan Dr. Eka Putri Wijayanti, Kepala Divisi Teknologi Farmasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat Jakarta. Dalam presentasinya berjudul “Regulasi Farmasi Indonesia dalam Perspektif Industri 4.0 dan Harmonisasi Internasional,” Dr. Eka menekankan pentingnya pemahaman regulasi terkini dalam mengembangkan produk farmasi yang aman, berkhasiat, dan berkualitas tinggi.
“Industri farmasi Indonesia sedang menghadapi transformasi digital yang fundamental. Dari sisi regulasi, BPOM telah dan akan terus melakukan penyesuaian untuk mendorong inovasi sekaligus melindungi kepentingan konsumen. Para mahasiswa farmasi harus memahami bahwa pengetahuan tentang Good Manufacturing Practice (GMP), Good Distribution Practice (GDP), dan regulasi lainnya bukan sekadar syarat formal, tetapi fondasi esensial untuk menjadi profesional farmasi yang bertanggung jawab,” ujar Dr. Eka dalam presentasinya.
Sesi berikutnya menampilkan Prof. Dr. Slamet Riyanto dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang membahas “Bioteknologi Modern dalam Pengembangan Produk Farmasi Generik dan Inovatif.” Prof. Slamet membagikan pengalaman desain dan pengembangan prototipe obat berbasis tekonologi bioteknologi yang telah mencapai tahap uji klinis. Diskusi interaktif mengenai peran universitas dalam ekosistem inovasi farmasi nasional menjadi highlight dari sesi ini.
Sore harinya, tepatnya pada pukul 13.30, kegiatan berlanjut dengan webinar interaktif berjudul “Karir Profesional di Industri Farmasi: Peluang dan Tantangan di Era Transformasi Digital.” Webinar ini menghadirkan tiga narasumber dari perusahaan farmasi multinasional dan lokal, yaitu Budi Santoso (Recruitment Manager PT Pharma Indo Jaya), Siti Nurhaliza (Head of Quality Assurance PT Medicinal Solutions Indonesia), dan Dr. Irwan Gunawan (Direktur Operasional Apotek Sejahtera Kendari).
Mereka berbagi pengalaman praktis tentang standar kompetensi tenaga kerja farmasi, peluang pengembangan karir, serta tantangan yang dihadapi dalam praktik profesional farmasi di era transformasi digital. “Kami mencari lulusan farmasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan teknis yang kuat, tetapi juga soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan adaptasi terhadap teknologi baru. Program pendidikan di Universitas Muhammadiyah Kendari telah sejalan dengan kebutuhan industri ini,” kata Siti Nurhaliza selama webinar berlangsung.
Penutup acara adalah kuliah umum pada pukul 15.30 yang menghadirkan Prof. Dr. Supratman Andi Agus, seorang farmakolog klinik ternama dan Ketua Perhimpunan Farmasi Indonesia (PFI). Dalam kuliah umumnya berjudul “Tanggung Jawab Profesi Farmasi: Dari Ruang Apotek Hingga Peran Publik Health,” Prof. Supratman mengajak seluruh peserta untuk merenungkan kembali nilai-nilai fundamental profesi farmasi dan tanggung jawab sosialnya.
“Profesi farmasi bukan hanya tentang penjualan obat. Farmasis adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat, dan ini adalah tanggung jawab yang sangat besar. Oleh karena itu, pendidikan farmasi harus menanamkan nilai-nilai etis, integritas, dan komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat. Saya sangat menghargai inisiatif Universitas Muhammadiyah Kendari dalam mengadakan acara seperti ini,” ungkap Prof. Supratman di penghujung kuliahnya.
Respons dan Partisipasi Peserta
Antusiasme peserta terhadap rangkaian acara ini sangat tinggi. Mahasiswa dari berbagai angkatan, khususnya mahasiswa semester akhir, aktif mengajukan pertanyaan dan berinteraksi dengan para narasumber. Salah seorang peserta, Rini Putri Saputri, mahasiswa tingkat empat Fakultas Farmasi Unismuh Kendari, menyampaikan apresiasi terhadap acara ini.
“Saya sangat terkesan dengan kualitas pembicara dan kedalaman materi yang disajikan. Terutama dari webinar karir, saya menjadi lebih jelas tentang jalur karir yang ingin saya tempuh setelah lulus nanti. Acara seperti ini sangat membantu kami mahasiswa dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja,” kata Rini dengan antusias.
Tidak hanya mahasiswa internal, partisipasi dari institusi lain juga sangat signifikan. Dosen dan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Halu Oleo Kendari, serta perwakilan dari beberapa institusi pendidikan farmasi lainnya di kawasan timur Indonesia turut hadir. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa acara ini telah menarik perhatian akademisi dan praktisi farmasi di tingkat regional.
Dampak dan Harapan Ke Depan
Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap peningkatan kualitas pendidikan farmasi di Universitas Muhammadiyah Kendari dan kontribusi nyata terhadap pengembangan industri farmasi Indonesia. Dr. Hendra Wijaya menegaskan bahwa kegiatan serupa akan diteruskan secara berkala sebagai bagian dari strategi akselerasi akademik dan industri.
“Kami akan mengembangkan lebih lanjut kolaborasi dengan institusi-institusi terkemuka yang telah bergabung hari ini. Rencananya, kami juga akan membentuk pusat inovasi farmasi herbal yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan mitra industri. Ini adalah langkah konkret menuju transformasi Fakultas Farmasi Unismuh Kendari menjadi lembaga pendidikan farmasi kelas dunia,” terang Dr. Wijaya pada sesi penutupan.
Selain itu, Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Kendari juga memprogramkan follow-up activities berupa workshop teknis tentang Good Manufacturing Practice (GMP), pelatihan identifikasi dan standardisasi tanaman obat lokal, serta program magang dan riset kolaboratif dengan partner industri farmasi terkemuka.
Penutup
Seminar nasional, webinar, dan kuliah umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Kendari pada Senin, 7 April 2026, telah membuktikan komitmen institusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan farmasi dan kontribusi aktif dalam pengembangan industri farmasi nasional. Dengan menghadirkan pembicara berkompeten, mengakomodasi partisipasi dari berbagai institusi dan industri, serta menciptakan forum diskusi yang interaktif, acara ini menjadi momentum penting dalam membangun ekosistem inovasi farmasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depannya, diharapkan bahwa acara-acara serupa akan terus diselenggarakan dan ditingkatkan kualitasnya sebagai bagian dari strategi jangka panjang Universitas Muhammadiyah Kendari dalam menghasilkan lulusan farmasi yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi dalam pembangunan industri farmasi Indonesia. Khususnya, Sulawesi Tenggara melalui universitas ini diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan farmasi berbasis sumber daya alam lokal yang bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat global.
—
Jumlah kata: 1.847 kata