KENDARI – Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya Fakultas Farmasi, mencatat pencapaian signifikan dalam dunia penelitian akademik. Sebuah tim multidisiplin yang terdiri dari dosen dan mahasiswa berhasil mengembangkan formula inovatif berbasis ekstrak tumbuhan tropis lokal untuk menghasilkan obat anti-inflamasi yang efektif dan terjangkau. Penelitian yang dimulai sejak tahun 2024 ini kini memasuki tahap uji klinis dan telah menarik perhatian industri farmasi nasional.
Pencapaian ini menjadi momentum penting bagi Fakultas Farmasi Unismuh Kendari dalam membuktikan komitmennya terhadap riset berkualitas dan inovasi di bidang farmasi. Terletak di jantung Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, institusi ini secara konsisten mendorong mahasiswa dan dosen untuk terlibat dalam penelitian yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
### Latar Belakang Penelitian dan Visi Kampus
Fakultas Farmasi Unismuh Kendari didirikan dengan visi menjadi pusat pengembangan ilmu farmasi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan lokal masyarakat Indonesia Timur. Dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas yang melimpah di Sulawesi Tenggara, fakultas ini melihat peluang besar untuk mengembangkan penelitian berbasis sumber daya alam lokal.
“Kami memiliki potensi luar biasa di sini di Kendari. Sulawesi Tenggara memiliki ribuan spesies tumbuhan yang belum tergali secara optimal untuk keperluan farmasi. Visi kami adalah menjadikan pengetahuan lokal ini sebagai foundation untuk inovasi farmasi modern,” ungkap Dr. Siti Nurhaliza, M.Si., Dekan Fakultas Farmasi Unismuh Kendari, dalam wawancara eksklusif pada Rabu, 03 April 2026.
Penelitian ini dimulai dari observasi sederhana namun mendalam. Tim peneliti mencatat bahwa masyarakat lokal Sulawesi Tenggara telah menggunakan berbagai tumbuhan tradisional untuk mengatasi peradangan dalam pengobatan tradisional selama berabad-abad. Namun, belum ada validasi ilmiah yang komprehensif terhadap efektivitas dan keamanan tumbuhan-tumbuhan tersebut.
### Metodologi dan Proses Penelitian
Penelitian yang berjudul “Pengembangan Formula Obat Anti-Inflamasi dari Ekstrak Sinergis Tumbuhan Tropis Lokal: Studi Etnofarmakologi dan Uji Klinis Fase I” ini dipimpin oleh Prof. Dr. Bambang Sutrisno, Ph.D., seorang farmakolog berbakat dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang pengembangan obat alami.
Tim riset terdiri dari 12 peneliti inti, termasuk 4 dosen senior, 3 dosen junior, dan 5 mahasiswa program magister dan doktor. Mereka bekerja sama dengan Laboratorium Penelitian Terpadu (LPT) Unismuh Kendari yang dilengkapi dengan peralatan modern untuk analisis fitokimia dan uji farmakologi.
“Kami mengidentifikasi lima spesies tumbuhan berdasarkan studi etnofarmakologi. Kelima tumbuhan ini secara tradisional digunakan oleh masyarakat Kendari dan sekitarnya untuk mengatasi berbagai jenis peradangan. Proses selanjutnya adalah ekstraksi menggunakan pelarut tertentu yang telah dioptimalkan untuk memaksimalkan kandungan aktif,” jelas Prof. Bambang Sutrisno saat menjelaskan metodologi penelitian di kantor Dekanat Fakultas Farmasi, Senin lalu.
Kelima tumbuhan yang menjadi fokus penelitian ini antara lain: kunyit lokal (Curcuma longa var. kendari), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), meniran (Phyllanthus niruri), sambiloto (Andrographis paniculata), dan akar mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Setiap tumbuhan dipilih berdasarkan potensi farmakologis dan ketersediaan di kawasan Sulawesi Tenggara.
Proses ekstraksi dilakukan di Laboratorium Farmakognosi, yang dipimpin oleh Dra. Eka Suryani, M.Pharm., salah satu dosen senior Fakultas Farmasi. “Kami menggunakan teknik ekstraksi berkesinambungan dengan kontrol suhu dan waktu yang ketat. Tujuannya adalah mendapatkan ekstrak yang konsisten dalam hal kandungan dan kualitas,” papar Dra. Eka dalam sesi diskusi bersama media massa kampus.
Setelah tahap ekstraksi, tim melakukan uji fitokimia untuk mengidentifikasi dan mengukur kandungan senyawa aktif. Dari tahap ini, ditemukan bahwa kombinasi ekstrak dari ketiga tumbuhan pertama – kunyit lokal, temulawak, dan meniran – menunjukkan sinergi yang paling optimal dalam menghambat mediator inflamasi.
### Hasil Penelitian dan Formulasi Obat
Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa formula kombinasi ekstrak tiga tumbuhan tersebut memiliki aktivitas anti-inflamasi yang setara atau bahkan melebihi obat anti-inflamasi sintetis standar yang telah ada di pasaran. Uji pada model inflamasi in vitro menunjukkan penghambatan produksi TNF-α dan IL-6 hingga 78%, jauh melampaui target awal penelitian yang ditetapkan di 60%.
“Hasil ini membuat kami sangat optimis memasuki tahap uji klinis. Data in vitro dan in vivo pada model animal kami memberikan indikasi yang sangat positif tentang keamanan dan efektivitas formula ini,” ujar Dr. Rinto Hasibuan, S.Farm., Ph.D., salah satu co-investigator penelitian dan dosen di bidang Farmasetika.
Berdasarkan hasil penelitian laboratorium ini, tim mengembangkan formula dalam bentuk kapsul dengan dosis 500 mg per kapsul. Formulasi dilakukan dengan teknologi enkapsulasi terkini untuk memastikan stabilitas ekstrak dan bioavailabilitas yang optimal. Proses ini melibatkan mahasiswa magister Farmasi bernama Reski Wijaya dan Sinta Anggraini, yang antusias mempelajari setiap detail proses formulasi.
“Sebagai mahasiswa magister, saya merasa sangat beruntung bisa terlibat langsung dalam penelitian dengan outcome sebesar ini. Ini bukan sekadar tugas kuliah, tetapi kontribusi nyata untuk masyarakat. Saya belajar bahwa farmasi modern tidak harus selalu bergantung pada sintetis, tetapi juga bisa memanfaatkan kebijaksanaan tradisional dengan validasi ilmiah,” ungkap Reski Wijaya, mahasiswa semester ketiga Program Magister Farmasi, saat ditemui di laboratorium penelitian.
### Dampak dan Relevansi Klinis
Keunggulan utama dari obat anti-inflamasi hasil inovasi ini adalah kombinasi dari tiga aspek penting: efektivitas tinggi, profil keamanan yang baik, dan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan obat anti-inflamasi sintetis impor yang saat ini beredar.
Indonesia masih mengimpor sebagian besar obat anti-inflamasi berkualitas tinggi dari negara-negara maju dengan harga yang cukup mahal. Hal ini menjadi kendala bagi akses masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah untuk mendapatkan penanganan anti-inflamasi yang optimal. Dengan pengembangan formula berbasis tumbuhan lokal, estimasi harga produksi dapat dikurangi hingga 60%, membuat obat ini jauh lebih accessible.
“Dari perspektif kesehatan publik, penelitian ini sangat relevan. Penyakit yang melibatkan komponen inflamasi sangat prevalente di Indonesia – mulai dari arthritis, penyakit autoimun, hingga komplikasi dari penyakit metabolik. Memiliki pilihan obat yang lebih affordable namun efektif adalah game-changer untuk kesehatan masyarakat kita,” jelas Dr. Mirza Fauzan, Ph.D., praktisi farmasi klinis yang juga alumni Unismuh Kendari dan kini menjadi advisor informal dalam penelitian ini.
Penelitian ini juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal Kendari. Petani yang menanam tumbuhan-tumbuhan target penelitian akan menjadi supplier bahan baku, menciptakan value chain yang berkelanjutan. Program ini bahkan telah memicu interest dari beberapa kelompok tani di sekitar Kendari untuk mulai membudidayakan tumbuhan-tumbuhan tersebut secara intensif.
### Dukungan Institusional dan Pendanaan
Kesuksesan penelitian ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari. Rektor Unismuh Kendari, Prof. Dr. H. Muhaimin, M.Si., memberikan alokasi pendanaan khusus sebesar 2,5 miliar rupiah untuk mendukung penelitian-penelitian inovatif seperti ini selama tiga tahun anggaran.
“Universitas Muhammadiyah Kendari berkomitmen menjadi motor penggerak inovasi di wilayah Sulawesi Tenggara. Melalui Fakultas Farmasi dan fakultas-fakultas lainnya, kami ingin menunjukkan bahwa institusi pendidikan di daerah tidak tertinggal dalam hal kualitas riset. Penelitian tentang obat anti-inflamasi ini adalah contoh nyata dari komitmen tersebut,” ujar Prof. Muhaimin dalam sesi peluncuran penelitian yang diadakan dua minggu lalu.
Pendanaan juga berasal dari hibah penelitian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui program Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) sebesar 1,2 miliar rupiah. Sumber pendanaan ketiga datang dari kerjasama dengan industri farmasi lokal yang tertarik dengan potensi komersial dari formula ini.
### Tahap Uji Klinis dan Rencana Ke Depan
Saat ini, penelitian telah memasuki tahap uji klinis Fase I, yang melibatkan 30 relawan sehat untuk mengevaluasi keamanan dan tolerabilitas obat. Uji klinis ini dilaksanakan di Rumah Sakit Pendidikan Unismuh Kendari dan beberapa klinik mitra di Kendari dengan izin dan pengawasan dari Komite Etika Penelitian Kesehatan.
“Fase I ini fokus pada safety dan dosage finding. Kami akan mengamati relawan selama 12 minggu untuk memastikan tidak ada adverse event yang serius. Jika fase ini berhasil, kita akan lanjut ke fase II yang melibatkan pasien dengan kondisi inflamasi ringan hingga sedang,” jelas Dr. Sari Kusmawati, S.Farm., Ph.D., sebagai clinical trial coordinator dari Unismuh Kendari.
Rencana jangka panjang tim peneliti adalah menggelar uji klinis fase II dan III dalam 18-24 bulan ke depan, dengan target permohonan registrasi ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2027. Jika perjalanan regulasi berjalan lancar, produk ini diharapkan dapat diluncurkan ke pasaran dan dapat diakses oleh masyarakat pada tahun 2028.
“Kami juga sedang mengurus patent untuk formula ini di tingkat nasional dan internasional. Ini bukan sekadar untuk keuntungan komersial, tetapi juga untuk melindungi intellectual property dari tim peneliti dan institusi kami,” tambah Dr. Siti Nurhaliza.
### Peran Mahasiswa dan Pengembangan SDM
Salah satu aspek paling menonjol dari penelitian ini adalah pelibatan intensif mahasiswa dalam setiap tahapan proses. Dari desain penelitian, pelaksanaan, hingga analisis data, mahasiswa mendapatkan pengalaman hands-on yang invaluable.
Sinta Anggraini, mahasiswa magister yang juga terlibat dalam proses formulasi, menceritakan pengalamannya dengan antusias. “Saya bisa menerapkan semua teori yang saya pelajari di kelas ke dalam proyek nyata. Lebih dari itu, saya belajar tentang proses penelitian yang rigorous dan pentingnya attention to detail dalam setiap langkah. Ini adalah pendidikan yang tidak bisa didapat dari kuliah saja,” katanya.
Universitas juga membuka kesempatan bagi mahasiswa sarjana program Farmasi untuk turut serta dalam penelitian ini melalui program magang struktural. Lima mahasiswa sarjana telah bergabung dengan tim, fokus pada eksplorasi etnofarmakologi dan literatur review.
“Program melibatkan mahasiswa ini adalah investasi jangka panjang kami dalam pengembangan sumber daya manusia. Mahasiswa-mahasiswa ini akan menjadi alumni yang tidak hanya memiliki gelar, tetapi juga pengalaman riset yang kredibel dan dapat langsung berkontribusi di industri farmasi,” jelas Prof. Dr. Bambang Sutrisno.
### Kolaborasi dan Jaringan Akademik
Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi dengan beberapa institusi terkemuka. Universitas Hasanuddin di Makassar terlibat dalam analisis fitokimia lanjutan, sementara Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan expertise dalam aspek pharmaceutical technology. Pada tingkat internasional, tim telah menjalin diskusi dengan Research Institute for Medicinal Plants (RIMP) Thailand untuk berbagi best practices dalam penelitian obat berbasis tumbuhan.
“Kolaborasi ini memperkaya perspektif riset kami dan memastikan bahwa metodologi yang kami gunakan sesuai dengan standar internasional. Ini juga membuka peluang untuk publikasi di jurnal-jurnal terkemuka dan meningkatkan visibilitas Unismuh Kendari di kancah akademik global,” ucap Dr. Rinto Hasibuan.
### Publikasi dan Diseminasi Pengetahuan
Hasil penelitian tahap awal telah menghasilkan tiga publikasi di jurnal internasional terakreditasi dan lima publikasi di jurnal nasional. Beberapa artikel masih dalam proses review di jurnal-jurnal dengan impact factor tinggi, seperti Journal of Ethnopharmacology dan Phytotherapy Research.
Tim juga aktif menyebarkan pengetahuan melalui seminar dan workshop. Pada bulan Februari lalu, Unismuh Kendari menggelar National Symposium on Natural Products and Drug Discovery yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai universitas dan industri farmasi di Indonesia.
### Tantangan